Motivasi Mahasiswa Menggunakan Friendster dan Pengaruhnya Terhadap berinternet dikalangan mahasiswa
Bab I
Pendahuluan
1. Latar Belakang
I. Apa itu Friendster ?
Sebelumnya, mari kita lihat apa itu Friendster. Agar tulisan sejarah lebih terlihat asli, maka saya membawakannya secara copy-paste:
“With more than 50 million members worldwide, Friendster is a leading global online social network. Friendster is focused on helping people stay in touch with friends and discover new people and things that are important to them. Online adults, 18 and up, choose Friendster to connect with friends, family, school, groups, activities and interests. Friendster prides itself in delivering a clean, user-friendly and interactive environment where users can easily connect with anyone around the world. Friendster has a growing portfolio of patents granted to the company on social networking.
Headquartered in San Francisco, California, Friendster is backed by Kleiner Perkins Caufield & Byers, Benchmark Capital, DAG Ventures and individual investors.
The Fellow :
Kent Lindstrom, President
Aaron Barnes, Vice President of Sales & Business Development
Chander Sarna, Senior Vice President of Engineering, Operations and Product
David Jones, Vice President of Marketing”
II. Siapakah Generasi Friendster itu ?
Tak lain dan tak bukan adalah para pemakai situs pencari teman itu sendiri. Namun tidaklah semua pengguna Friendster adalah Generasi yang harus dienyahkan. Bahkan beberapa pengguna adalah kandidat Revolusioner Negeri yang ternyata tidaklah menganggap Friendster sebagai suatu prioritas penting. Tentunya teramat tidak bijak apabila kita menggeneralisir terlalu cepat. Mengenyahkan berbagai aspek dalam situs tersebut tanpa melihat sisi lebihnya, apalagi hanya sekedar “Say No !” terhadapnya. Terlebih dahulu, kita harus mengetahui apa yang tidak beres dari pengguna situs tersebut. Dalam hal ini, ciri – cirinya.
II.I. Gejala Satu : Friendster sebagai Prioritas
Sebelum melangkah lebih jauh, baiknya kita mengetahui dulu perilaku pengguna Internet.
Apakah anda termasuk orang yang memberi keleluasaan seratus persen terhadap suatu hal (Dalam hal ini, ketika anda berinternet) ? Dalam kata lain, anda siap mengerjakan sesuatu secara paksa demi keberlangsungan hal tersebut ? Siap menangis berliter – liter ketika hal tersebut hilang dari gapaian anda ? Siap untuk membela mati – matian apabila hal tersebut akan direbut dari anda. Apabila iya, anda termasuk golongan pertama.
Apakah anda adalah orang yang memberi keseimbangan terhadap apa yang anda lakukan ? Sebagai contoh, anda mengunjungi suatu tempat dengan label “fanatik” di kepala anda (Tak lain anda adalah pengunjung setia tempat tersebut, menganggapnya sebagai suatu hobi), tatkala anda pun mengerjakan hal lain yang sama gunanya. Contoh kasar lainnya dalam Internet Browsing (dan dalam kasus ini) adalah membuka Wikipedia dan juga Friendster. Di satu sisi, anda membuka Friendster demi meng-upload berpuluh – puluh foto yang bersarang di dokumen anda. Di sisi yang lain, anda menggunakan Wikipedia untuk mencari perihal – perihal baru yang, mungkin belum anda ketahui. Apabila anda adalah orangnya, maka anda termasuk kedalam golongan kedua.
Apakah anda seorang yang plin – plan ? Dalam artian bahwa anda adalah orang yang selalu berubah pendiriannya setiap saat ? Dalam contoh yang diberikan di sini, anda tidak tahu apa yang harus anda buka ketika berselancar didalam internet. Sehingga pilihan selalu jatuh ke dalam nama – nama yang besar macam “Google” ataupun “Yahoo!” untuk sekedar mencari apa yang sebenarnya anda tidak butuhkan. Selamat, anda masuk golongan ketiga.
Ya, ada tiga. Dan Generasi Friendster termasuk golongan yang pertama. Meski lebih terlihat sebagai Fanatik daripada Pro-Friendster, namun metode mereka dalam mengaksesnya seringkali menjadi sebuah stereotip.
Menurut Kaca Mata pengalaman saya, kebanyakan muda – mudi yang ‘normal’ itu langsung, dengan serta merta, tanpa kompromi, melakukan hal dibawah ini :
1. Mengetikkan URL tersebut (Friendster) di halaman tab mereka,
2. Login,
3. Melakukan beberapa hal yang menjadi fitur Friendster (Memberi Testimonial/Comment, Mengedit Profile (syukur – syukur bisa HTML/CSS), dan lainnya),
4. Logout.
Lucu ? Bahkan anda harus ketahui bahwa sirkulasi tersebut dapat terjadi berulang – ulang dalam satu bulan, misalnya. Kecuali ada yang menimpa hidup sang pelaku. Misalnya Akun FS-nya kena deface ataupun ada seseorang yang mengutak – atiknya. Maka sirkulasi akan berangsur – angsur berhenti.
Itupun masih antara satu diantara 3 kemungkinan yang ada. Bisa saja dia memiliki Backup Data sehingga bisa kembali normal. Ataupun sekedar membuat akun baru.
Sayangnya, hal tersebut (kebanyakan) hanya terjadi di dalam dunia itu saja. Prioritas tidak akan terjadi di mata anak muda itu ketika dia kehilangan akun WordPress-nya. Atau akun Wikipedia-nya. Atau yang lainnya
…Aneh.
II.II. Gejala Dua : Membuang hal lain yang tidak senada
Tentu anda sudah membaca Bagian Pertama. Sekiranya anda harus mengetahui apa kelanjutan dari gejala ini.
Kenapa ? Karena ini akan membedakan antara anda yang asli dengan orang yang sudah terkena penyakit tersebut.
Ketika ‘penyakit’ tersebut sudah mulai memasuki ‘stadium lanjut’, maka perilaku orang tersebut juga akan berubah. Dimulai dari sisi fanatisme akan situs tersebut kian naik. Lalu memvonis situs – situs berwawasan dengan cap ‘udik nan katro’. Kemudian, menjadi sikap chauvinisme yang berlebihan akan merambah kedalam gaya hidupnya, karena didukung oleh lingkungan sekitar dan ‘teman – temannya’. Mereka – mereka ini akan mulai merambah HP berkamera demi lembaran foto – foto digital yang sudinya akan ditempatkan di suatu keranjang foto di dalam situs tersebut.
Di sisi lain, mereka yang terkena pengaruhnya akan mengalami berbagai kebosanan, sehingga mereka akan menduplikasi profil diri di dalam situs lain yang senada (Introducing MySpace, Live Connector, Temanster, etc.). Adapun kehidupan menulis komentar di dalamnya akan berbuah lanjut kedalam pembuatan blog untuk menulis keseharian mereka.
II.II. Gejala Tiga : Paham Friendster-isme
Fanatisme yang naik akan perihal ini tentunya akan berbuah lagi. Ya, kemungkinan besar Friendster telah dijadikan tolak ukur, atau malah standar baru bagi orang yang memiliki eksistensi dan ingin dicap sebagai “funky”, “gaul”, ataupun “up-to-date“. Tak jarang pula, dalam dunia komunikasi sekejap (Baca: Chatting), alamat URL daripada profil mereka seringkali ditanyakan oleh kedua belah pihak. Namun, seakan – akan hal tersebut menjadi sebuah kewajiban. Ketika orang yang jujur mengatakan dia tidak memiliki satu, maka dia pun acapkali dicap sebagai ‘udik nan katro’. Tidakkah kalian merasa ada yang aneh ?
Mengapa tingginya ‘derajat’ seseorang (Dalam hal ini digeneralisir sebagai remaja) malah dilihat dari banyaknya Comment ataupun Testimonial yang mereka miliki ? Apakah orang yang memiliki berpuluh – puluh halaman pada ‘Friend List‘ begitu terhormatnya, dibandingkan dengan orang yang jujur diatas ?
Begitulah sebuah potret kehidupan remaja saat ini. Mungkin Friendster bukanlah pembodohan massal bagi remaja – remaja Indonesia, namun hanyalah penyalahgunaan sumber daya dengan skala besar.
(Sebagai tambahan, adapun kelakuan dan bahasa yang diadaptasi di dunia FS itu seringkali dibawa – bawa sampai ke dunia lain. Blog, misalnya. Mengapa saya tidak mempermasalahkan hal ini ? Karena ini bukanlah suatu kesalahan yang mesti diurus – urus. Namun dilihat dari kacamata logika dan norma versi saya, hal tersebut ternyata tidak cocok.)
III. Mengapa Generasi Friendster Saja yang harus Dilibas ?
Ketika anda sampai di poin ini, tentunya anda akan berpikir: “Kalau sudah melakukan sampai sejauh ini, harusnya penulis juga sudah sangat anti terhadap Friendster ? Kiranya penulis tidak mungkin memiliki satupun akun ataupun hal yang berbau FS itu. Benar ?” Maaf, untuk hal yang satu itu, saya kira anda salah. Saya punya 3 akun di sana.
Dan mungkin anda akan melakukan beberapa hal yang senada di bawah:
1. Anda akan langsung mengkafiri saya, mengecap saya sebagai tukang mbacotTM yang memiliki standar ganda. Lalu Blog ini langsung anda blacklist, lalu anda minta kepada salah satu petinggi agar tempat ini diharamkan dari dunia WordPress. (Eh, tunggu, tunggu. Bukannya saya sudah diharamkan ? )
2. Mengejak – ejek di dalam hati, mengumpat – ngumpat dengan bibir yang komat – kamit. Lalu berkomentar bernada sinis, lengkap dengan atribut seorang anonim yaitu tanpa URL. Seharusnya anda cukup muda untuk melakukan itu
3. Tersenyum puas. Merasa sudah menang perang.
Hohoho, maaf. Anda sudah menggeneralisasi terlalu cepat.
Baiklah, begini.
Pertama, seperti apa yang saya kemukakan sebelumnya bahwa kita tidak mungkin, atau bahkan, tidak perlu menghancurkan situs tersebut. Karena sebenarnya masih banyak orang baik yang kebetulan menggunakan fasilitas Friendster. Dan beberapa diantaranya adalah pemimpin ataupun para revolusioner negeri yang memiliki kemungkinan cukup besar untuk merubah tanah air ini. Menghancurkan Friendster secara keseluruhan sama saja dengan bunuh diri. Lagipula, apabila ditilik, ternyata ada lebih banyak komunitas yang memiliki predikat lebih pantas untuk dihancurkan. Cukup merombak ulang Generasi Friendster-nya saja.
Kedua, perilaku Generasi Friendster ini tidak dapat ditolerir dalam beberapa aspek, meski apabila dilihat lebih lanjut, masih berskala kecil. Misalnya distorsi bahasa yang menghilangkan mentah – mentah keragaman dan keselarasan Bahasa Indonesia. Ataupun perilaku merendahkan orang – orang yang tidak masuk kedalam mayoritas mereka.
Ketiga, Generasi Friendster (kebanyakan) adalah Generasi yang sudah menganut globalisme. Hal ini sudah dapat terlihat dari perilaku – perilakunya. Sayangnya, globalisme tidak selamanya positif, sehingga apabila diteruskan, Generasi penerus Indonesia tidak jauh ubahnya dengan anak – anak muda di daerah Barat sana, yang (katanya) Individualis itu. Saya pribadi tidak menginginkan perilaku anak bangsa yang dibuat – buat dan hancur seperti itu.
Keempat, Saya takutkan Generasi seperti ini hanya akan melihat sesuatu daripada fisiknya saja. Hal ini tentu saja dapat meinbulkan apa yang dimaksud daripada kesenjangan sosial antara manusia. Terkadang, lelaki itu hanya melihat sesuatu dari cantiknya saja, maka tak aneh apabila kebanyakan dari mereka hanya akan melihat cinta dari satu sisi saja. Ibarat pelajar pemenang Olimpiade SAINS yang ternyata memiliki perilaku membuang sampah sembarangan dan sering membuang – buang kertas, tidak lebih baik daripada anak lugun bertitel pecundang, yang berperilaku sebaliknya.
Saya kira tidak perlu mempermasalahkan soal alasan lagi, toh ? Maka..
IV. Banner
Large Size (170×68 px, 14,7 kB)
Small Size (10×30 px, 10,3 kB)
Saya kira ketika anda mencapai tahap ini, anda sudah mengerti keseluruhan artikel ini secara keseluruhan, sehingga saya tentu berharap apabila anda setuju dengannya. Berbeda dengan propaganda – propaganda sebelumnya yang terkadang tidak menyertakan banner seperti diatas, maksud saya dalam membuat artikel seperti ini bukanlah satir maupun dibuat – buat, sehingga apa yang saya tulis diatas benar adanya. Maka perlulah suatu pembuktian dengan pembuatan benda berekstensi .PNG dan .JPG tersebut. Banner ini gratis, tidak dipungut biaya terkecuali apabila anda sudi memberikannya tanpa maksud kepada saya.
Tentunya apabila anda menggunakan banner diatas merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi saya.
Era globalisasi informasi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak pada semakin cepatnya terjadi perubahan pada lingkungan remaja pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya. Keadaan ini pun menjadikan para mahasiswa sekarang menjadi lebih kreatif dalam mencari ide-ide baru dalam rangka membangun rasa percaya diri dalam bergaul dengan teman di sekitar kampus, tempat tinggal, maupun teman dari daerah yang sebelumnya sama sekali tidak pernah dikunjunginya. Hal ini mungkin terjadi pada masa sekarang karena perkembangan teknologi sudah sangat maju, apalagi sekarang sudah ada fasilitas yang memungkinkan semua itu dilakukan hanya dengan menggunakan sarana komputer dan akses internet, fasilitas itu dinamakan friendster.
Namun tak dapat pula dipungkiri bahwa kemajuan teknologi ini juga membawa efek yang negatif bagi beberapa penggunanya yang tentu saja dapat merusak kepribadian seseorang, belum banyak penelitian yang menunjukkan efek negatif dari penggunaan friendster ini karena sifatnya yang lebih mengacu pada dukungan dalam pergaulan di dunia maya. Namun jika diperhatikan secara seksama banyak dari mereka menggunakan friendster karena alasan ingin mempunyai banyak teman yang lebih didasari atas gengsi pada temannya yang lain, artinya mereka akan jauh lebih percaya diri dalam bergaul jika terdaftar sebagai anggota friendster. Maka dari itu perlu diteliti faktor apa saja yang menjadi dasar para pengguna jasa ini menggunakan friendster.
2. Identifikasi Masalah
Perubahan tingkah laku para pengguna friendster bisa disebabkan oleh banyak faktor, diantara sekian banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain karena :
Pola bergaul yang tidak baik
Motivasi menggunakan friendster
Terlibat pergaulan bebas
Dari ketiga faktor diatas, dua diantaranya adalah faktor yang sangat mempengaruhi dalam mengubah tingkah laku seorang mahasiswa setelah dalam jangka waktu tertentu menggunakan friendster, gejala-gejala masalah yang dapat di identifikasi dari ketiga masalah tersebut adalah :
Perubahan perilaku, pada hakikatnya hal ini terjadi karena perubahan pola hidup yang mengarah pada satu titik yaitu itu baik ataupun buruk, ini bisa saja disebabkan karena faktor lingkungan, kebiasaan yang mulai berubah, ataupun pola pikir seseorang.
Motivasi menggunakan friendster, hal ini dapat diasumsikan sebagai faktor yang mendasari penggunaan friendster itu sendiri, apakah seseorang ingin menggunakannya untuk mencari lebih banyak teman ataukah ingin menggunakannya sebagai kegiatan pengisi waktu luang saja.
Terlibat pergaulan bebas, pada poin ini sudah dapat diketahui faktor yang bisa mengubah perilaku seorang pengguna friendster, harus diingat bahwa segala sesuatu di internet memiliki ilmu surga dan juga ilmu neraka, jika saja pengguna friendster tidak bisa menjaga diri dari pergaulan dengan teman baru yang biasa bergaul bebas dengan teman sebayanya tentu saja dapat dipastikan penggunanya dapat terjebak dalam tingkah laku yang kelak akan merugikan dirinya sendiri.
3. Batasan Masalah
Mengacu pada identifikasi masalah sebelumnya, penelitian ini hanya melingkupi motivasi berfriendster dan terlibat pergaulan bebas. Pada poin motivasi berfriendster hanya akan dibahas mengenai alasan yang mendasari seseorang menggunakan fasilitas ini, dan pada poin terlibat pergaulan bebas akan dibahas mengenai alasan kenapa seseorang bisa terjebak dalam perilaku ini. Sedangkan responden penelitian akan difokuskan pada mahasiswa yang berada di lingkungan kampus saja.
4. Rumusan Masalah
Bagaimana tingkat motivasi menggunakan friendster dikalangan mahasiswa?
Bagaimana tingkat pergaulan bebas dikalangan mahasiswa?
Bagaimana hubungan tingkat motivasi dan tingkat pergaulan bebas dengan perubahan tingkah laku mahasiswa?
5. –Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain adalah :
Membahas motivasi menggunakan friendster dikalangan mahasiswa
Membahas tingkat pergaulan bebas dikalangan mahasiswa
Membahas hubungan motivasi menggunakan friendster dan tingkat pergaulan bebas dengan perubahan tingkah laku mahasiswa
6. Manfaat Penelitian
Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi bagi para peneliti yang mungkin akan mengambil tema yang sama. Serta bagi para pembaca diharapkan dapat menjadi masukan yang positif agar tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan sekarang yang memang menuntut keahlian dan pengetahuan di bidang iptek agar tidak terjerumus pada perubahan perilaku yang tidak baik.